Главная » Без рубрики » Tantangan Madrasah dalam Menghidupkan Pendidikan Karakter (Pendidikan Bernilai Hidup)

Tantangan Madrasah dalam Menghidupkan Pendidikan Karakter (Pendidikan Bernilai Hidup)

Tantangan Madrasah dalam Menghidupkan Pendidikan Karakter (Pendidikan Bernilai Hidup)

S2 Magister Pendidikan Agama Islam Alma Ata—Pendidikan karakter saat ini masih sangat populer di dunia pendidikan. Namun, sebagai akibat dari pandemi yang masih menghantui dunia ini, pembelajaran sebagian besar dilakukan secara online. Tema pendidikan karakter ini sangat populer karena didengungkan atau dibuat populer oleh para pakar pendidikan di negara kita. Seolah-olah gagasan pendidikan karakter yang sebenarnya berakar dari nilai keyakinan masyarakat suatu bangsa secara cepat menyebar ke seluruh sistem pendidikan.

Pendidikan karakter menjadi salah satu alternatif untuk memperbaharui hasil pendidikan kita yang dinilai kurang memadai. Prinsip pendidikan karakter ini perlu terinternalisasi dalam seluruh komponen pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan yang seimbang dalam kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk mencapai hasil yang ideal tersebut, langkah awal yang diambil oleh pemerintah adalah memasukkan pendidikan nilai ke dalam kurikulum di sekolah dan madrasah.

Kondisi Riel Madrasah

Keadaan madrasah setelah diterbitkannya SKB tiga menteri pada tahun 1975 mengakibatkan pengurangan beberapa materi agama yang diganti dengan materi umum, yang kemudian berdampak pada eksistensi madrasah yang sudah cukup kuat bersanding dengan sekolah umum. Upaya tersebut menyebabkan madrasah mendapatkan pengakuan setara dengan sekolah dalam berbagai aspek, termasuk ijazah yang diterima oleh siswa madrasah.

Namun, kesejajaran madrasah dengan sekolah umum juga menghadirkan masalah tersendiri bagi madrasah. Beberapa isu yang dihadapi secara umum oleh madrasah, menurut Raharjo (2009), antara lain adalah penurunan pemahaman agama di kalangan siswa. Sebelum SKB, materi kurikulum agama dianggap belum cukup untuk melahirkan muslim sejati, terlebih setelah dikurangi. Lulusan madrasah dinilai memiliki kompetensi yang setengah matang, dengan pengetahuan agama yang kurang mendalam dan pengetahuan umum yang juga rendah.

Selain dampak dari pengurangan mata pelajaran agama, madrasah juga menghadapi beberapa tantangan akibat dualisme kebijakan pemerintah antara sekolah dan madrasah (terutama sebelum reformasi), lemahnya sistem manajemen madrasah, serta rendahnya kualitas SDM dan kualitas input awal madrasah. Berbagai masalah tersebut akhirnya menghasilkan efek berantai bagi madrasah, salah satunya adalah kesulitan madrasah dalam mempertahankan eksistensinya dalam menciptakan lingkungan madrasah yang konsisten dengan pendidikan karakter dan nilai. Belakangan ini, sifat-sifat yang menjadi ciri khas pendidikan karakter, seperti disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan ketidakmenyerahan, masih jarang ditemukan di kalangan pemangku kepentingan madrasah. Padahal, seharusnya madrasah menjadi tempat yang kaya akan sifat-sifat luhur tersebut.

Kondisi yang Diperlukan

Untuk mewujudkan madrasah berkualitas dengan salah satu indikatornya adalah terinternalisasinya nilai karakter dalam kehidupan madrasah, maka madrasah memerlukan manajemen yang profesional. Pengelolaan profesional sebagaimana diatur dalam PP RI No 19 tahun 2005, menurut penulis, memerlukan tindakan mendesak berikut ini:

Kepala Madrasah Visioner

Menghadapi berbagai masalah madrasah terkait dengan internalisasi pendidikan nilai sebagaimana diuraikan sebelumnya, madrasah memerlukan keberadaan kepala madrasah yang visioner. Seorang kepala madrasah yang mampu kunjungi mengantisipasi kompleksitas perubahan yang terjadi di madrasah, dengan tetap berpegang pada jati diri bangsa yang sejati, yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya. Pemimpin yang dapat memberdayakan seluruh komponen pendidikan di madrasah, baik yang berkaitan dengan SDM maupun komponen lainnya.


Автор: , Рубрика: Без рубрики, 26 октября 2024